Lompat ke isi utama

Berita

Tingkatkan Partisipasi Perempuan, Bawaslu Ngawi Gandeng Fatayat NU dan KOHATI dalam Diskusi Pemilu Inklusif

diskusi pemilu Inklusif fatayat kohati

NGAWI – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Ngawi menyelenggarakan kegiatan Diskusi Pemilu Inklusif dengan menggandeng organisasi perempuan, yakni Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) dan Korps HMI-Wati (KOHATI) Ngawi. Kegiatan yang bertujuan untuk menguatkan partisipasi perempuan dalam pengawasan dan penyelenggaraan pesta demokrasi ini dilangsungkan di Kantor Bawaslu Kabupaten Ngawi pada Kamis (17/9/2026).

Ketua Bawaslu Kabupaten Ngawi, Yohanes Pradana Vidya Kusdanarko, dalam sambutannya menekankan pentingnya edukasi politik yang ramah terhadap semua kalangan. Ia menyampaikan bahwa Bawaslu Ngawi memiliki komitmen edukasi berkelanjutan melalui program Bawaslu Membelajarkan yang salah satunya secara khusus menyoroti kiprah perempuan dalam Pemilu.

"Terkait isu Pemilu inklusif, kami dalam program Bawaslu Membelajarkan juga mengangkat tema Perempuan dalam Pemilu. Jadi, bagi masyarakat yang ingin mempelajari lebih lanjut, bisa melihat tayangannya melalui kanal YouTube Bawaslu Ngawi serta platform media sosial kami lainnya," ujar Yohanes.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Bawaslu Ngawi, Anita Setia Megaputri, menegaskan bahwa pada prinsipnya tidak ada diskriminasi dalam kerja-kerja penyelenggaraan Pemilu. Semua pihak memiliki kesempatan yang setara untuk ikut ambil bagian.

"Sebenarnya tidak ada pembedaan, semua bisa menjadi penyelenggara Pemilu. Bahkan, perempuan juga mendapat ruang afirmatif (kebijakan afirmasi) jika terlibat sebagai penyelenggara. Pada masa kini, negara secara inklusif juga telah menghadirkan regulasi yang khusus untuk mendukung keterlibatan perempuan," jelas Anita.

Diskusi ini juga menjadi ruang tukar pandangan bagi para perwakilan organisasi perempuan yang hadir. Sriwahyuni, perwakilan dari Fatayat NU, menyoroti tantangan kultural yang masih kerap dijumpai di akar rumput.

"Perempuan di sebagian masyarakat desa, khususnya di lingkungan wilayah saya tinggal, acapkali masih dipandang kurang kompeten dalam bidang penyelenggaraan. Tetapi melalui keterlibatan ini, kita membuktikan bahwa kita bisa dan mampu terlibat sebagai penyelenggara Pemilu," tegas Sriwahyuni.

Sementara itu, Khusnul selaku perwakilan dari KOHATI memberikan sudut pandang dari kacamata generasi muda. Menurutnya, hambatan terkait perspektif inklusivitas perempuan saat ini mulai memudar dan hanya dimiliki oleh sebagian kecil masyarakat.

"Seperti yang dikatakan sebelumnya, perspektif (negatif) terhadap inklusif perempuan mungkin hanya ada di sebagian orang saja. Selain dari itu, kita fine-fine saja di lingkungan kami. Sebagai generasi muda, kami selalu ikut aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan," tuturnya.

Melalui diskusi ini, diharapkan sinergi antara penyelenggara Pemilu dan kelompok-kelompok perempuan di Kabupaten Ngawi dapat terus terjalin dengan baik, guna mewujudkan iklim demokrasi yang semakin inklusif, setara, dan partisipatif.