Bawaslu Kabupaten Ngawi Ikuti Zoom Meeting Pokja PPKS Bertema “Berani Lapor: Hapus Stigma”
|
Ngawi, Bawaslu Kabupaten Ngawi — Bawaslu Kabupaten Ngawi mengikuti kegiatan Zoom Meeting yang diselenggarakan oleh Pokja Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Bawaslu Provinsi Jawa Timur dengan tema “Kampanye Berani Lapor: Hapus Stigma”. Kegiatan tersebut diikuti oleh jajaran Bawaslu Provinsi Jawa Timur bersama 38 Bawaslu Kabupaten/Kota se-Jawa Timur. Kamis ,21/5/2026.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh, Rusmifahrizal Rustam Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Timur Sekaligus Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa keberadaan Pokja PPKS bukan sekadar simbol, melainkan memiliki tugas nyata dalam upaya pencegahan serta penanganan kekerasan seksual di lingkungan Bawaslu.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian untuk melapor apabila terjadi tindakan kekerasan seksual, baik yang dialami oleh staf, pimpinan, maupun pihak lain selama terlapor merupakan bagian dari keluarga besar Bawaslu Jawa Timur.
“Harus berani lapor. Semua laporan yang masuk harus ditangani secara profesional sesuai mekanisme yang ada,” tegasnya.
Selain itu, Rusmifahrizal meminta seluruh Bawaslu Kabupaten/Kota menyediakan saluran pengaduan maupun posko layanan pengaduan kekerasan seksual yang mudah diakses masyarakat dan keluarga besar Bawaslu. Menurutnya, keberadaan layanan tersebut menjadi bentuk komitmen lembaga dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan bebas dari kekerasan seksual.
Pada kesempatan tersebut, materi utama disampaikan oleh Ketua Pokja PPKS Bawaslu Provinsi Jawa Timur, Eka Rahmawati Koordinator Divisi P2P, dengan judul “Memahami Respon Trauma dan Kerangka Dukungan Korban Kekerasan Seksual di Lingkungan Bawaslu”.
Dalam paparannya, Eka menjelaskan pentingnya memahami kondisi trauma korban sebagai langkah awal dalam penanganan kasus kekerasan seksual. Ia menyampaikan bahwa trauma merupakan respon emosional, psikologis, dan fisik akibat pengalaman yang mengancam atau mengguncang seseorang.
“Korban kekerasan seksual memiliki respon yang berbeda-beda. Karena itu, penting bagi kita untuk memberikan empati, bukan penghakiman,” jelas Eka.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun mekanisme dukungan dan pendampingan yang tepat agar korban tidak mengalami trauma berulang akibat stigma maupun perlakuan yang menyalahkan korban.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kabupaten Ngawi menunjukkan komitmennya dalam mendukung terciptanya lingkungan kerja yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan seksual. Kegiatan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman seluruh jajaran Bawaslu terkait pentingnya keberanian melapor serta penghapusan stigma terhadap korban kekerasan seksual.